Penulis : Faras Puji Azizah
RUANGLENSA.COM – Kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Manuskrip Incung Kerinci dan Perawatan Manuskrip Kuno, yang diselenggarakan oleh Bapak Hafiful Hadi Sunliensyar, M.A. bersama tim, menjadi momentum penting dalam mengungkap temuan terbaru manuskrip Surat Incung Kerinci yang sarat nilai sejarah, sastra, dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Sejumlah manuskrip yang ditemukan tidak hanya memuat kisah percintaan dan ratapan emosional, tetapi juga merekam jejak batas tanah adat, silsilah leluhur, serta pengetahuan tradisional masyarakat Kerinci di masa lampau.
Di Museum Siginjai, ditemukan tiga manuskrip Incung yang berisi mantra, kisah percintaan, serta ratapan sedih tentang dua saudara yang merantau jauh. Naskah ini diketahui berasal dari Koto Buayo, wilayah perbatasan Kabupaten Merangin dan Batanghari.
Sementara itu, di Desa Jujun, koleksi pusaka Depati Jujun menyimpan manuskrip yang ditulis di atas media tembaga. Naskah tersebut mengisahkan leluhur bernama Siginda Kuning dan SigindaPandek, sekaligus mencatat pembagian batas tanah dan kawasan hutan adat.
Temuan lain berasal dari Tanah Indopuro, Koto Diair, dalam koleksi pusaka Sigumi Putih, yang memuat prosa percintaan yang ditulis oleh dua penulis berbeda. Adapun koleksi pusaka Rio Mudo dan SirajoMatahi di SiulakPanjang juga menyimpan anuskripIncung bertema percintaan, dengan total dua manuskrip tambahan yang telah teridentifikasi.

Temuan-temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula LP2M IAIN Kerinci, pada Kamis, 22 Januari 2026, dengan menghadirkan narasumber Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D. serta Hafiful Hadi Sunliensyar, M.A.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pemilik naskah kuno,perwakilan dinas terkait, pemangku adat, akademisi, peneliti, sertamahasiswa, sebagai bentuk kerjasamadalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Kerinci.

Menurut penyelenggara, manuskrip Incung merupakan sumber penting untuk memahami sejarah, struktur sosial, hukum adat, serta ekspresi sastra masyarakat Kerinci di masa lalu. Oleh karena itu, pelestarian manuskrip menjadi langkah strategis dalam menjaga warisan intelektual dan budaya daerah.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dibekali pengetahuan praktis mengenai perawatan sederhana manuskrip kuno, guna mencegah kerusakan akibat usia, kelembapan, maupun penanganan yang kurang tepat.
Diseminasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya merawat dan melestarikan manuskrip Kerinci sebagai bagian dari identitas, memori kolektif, dan kekayaan budaya bangsa. (*)












