Hadirkan Senyum Di Tengah Duka, Bupati Monadi Kunjungi Kediaman Dahlia Tkw Yang Diduga Disiksa Majikan Di Malaysia

RUANGLENSA.COM,KERINCI – Bupati Kerinci, Monadi, menyambangi kediaman Dahlia, tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Koto Lebuh Tinggi, Kecamatan Siulak, yang diduga menjadi korban penganiayaan majikan di Malaysia. Kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya yang tengah menghadapi masa sulit.

Dahlia, yang kini berada di kampung halamannya, mengalami gangguan fisik akibat perlakuan tidak manusiawi yang diterimanya. Peristiwa ini tidak hanya menyisakan luka secara fisik, tetapi juga trauma mendalam bagi dirinya dan keluarga.

Dalam kunjungan itu, Bupati Monadi didampingi Kepala Dinas Sosial Juanda Sasmita, Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kerinci Suhaidir, Camat Siulak, perangkat Desa Koto Lebuh Tinggi, serta Koordinator Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Jambi. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan lembaga pendamping pekerja migran terhadap warganya yang menjadi korban.

Bupati Monadi turut menyerahkan sejumlah bantuan berupa satu unit kursi roda untuk memudahkan mobilitas Dahlia. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga dan membantu proses pemulihan kesehatan Dahlia.

Bupati Monadi menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian tersebut. Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus memantau kondisi kesehatan Dahlia dan memberikan pendampingan lanjutan.


“Kita akan terus mendampingi dan memastikan hak-hak beliau terpenuhi, baik dari segi kesehatan maupun bantuan sosial,” ujar Monadi.

Selain bantuan yang diserahkan, pemerintah daerah berencana melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perlindungan hukum dan hak-hak Dahlia sebagai pekerja migran terpenuhi. Langkah ini juga menjadi upaya mencegah kasus serupa menimpa warga Kerinci lainnya.

Bupati Monadi mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada dalam mengambil keputusan bekerja di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kelengkapan dokumen, jalur penempatan resmi, serta memastikan perlindungan hukum bagi para pekerja migran demi menghindari risiko kekerasan maupun eksploitasi.


(Uan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *